daranggi personal blog

mengikat pengetahuan dan ilmu dengan menuliskannya...............

Tampilkan postingan dengan label STPDN/ IPDN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STPDN/ IPDN. Tampilkan semua postingan






OLEH:
MUHAMMAD RANGGI TARUNA (NPP. 16.0090)
JURUSAN: POLITIK PEMERINTAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Institut Pemerintahan Dalam Negeri ( IPDN ) sebagai lembaga pendidikan kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri, mengemban tugas dalam penyiapan kader pemerintahan ( pamong ) yang memiliki kemampuan intelektual ( ratio ), keterampilan ( skill ) dan kepribadian ( personality ) yang tinggi. Untuk keperluan penyiapan tersebut ditempuh melalui tiga bentuk upaya pendidikan, yaitu pengajaran, pelatihan dan pengasuhan ( jarlatsuh ).
Pada tahun ajaran 2007/2008, praktek lapangan bagi Wasana Praja yang semula berbentuk Bakti Karya Praja ( BKP ) dalam penyelenggaraannya akan dilaksanakan dalam bentuk magang di Pemerintahan Desa ( khususnya di Sekretariat Desa ). Kedudukan magang adalah sebagai pengganti Bakti Karya Praja ( BKP ) yang wajib diikuti oleh setiap Wasana Praja. Bobot praktek lapangan ini adalah 3 SKS.
Pemikiran yang melatar-belakangi diselenggarakan magang dan praktek lapangan pada umumnya, adalah :
1. Bahwa kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dikampus perlu dilengkapi dengan pengalaman dilapangan.
2. Berdasarkan pengalaman, sering dijumpai pertumbuhan antara teori dengan praktek-praktek dilapangan tidak serasi. Oleh karena itu, sebagai upaya pengayaan keilmuan, pemahaman fenomena dilapangan sangat diperlukan.
3. Kegiatan pelatihan di lapangan yang mempunyai sisi pembauran dengan masyarakat, juga merupakan upaya pendewasaan praja yang saat ini sangat efektif.
Dalam pelaksanaan magang tahun 2007/2008, Praja ditempatkan di Desa/Kelurahan untuk membantu tugas-tugas Sekretaris Desa/kelurahan. Perimbangan pemilihan Sekretariat Desa/Kelurahan, adalah :
1. Pemerintahan Desa/Kelurahan merupakan unit kerja pemerintahan terendah yang memiliki struktur organisasi yang sederhana tetapi memiliki fungsi yang komplek,
2. Pemerintahan Desa/Kelurahan merupakan unit pelaksana pelayanan publik yang berhadapan langsung dengan masyarakat ( customer ),
3. Penempatan Praja di Desa/Kelurahan berhadapan langsung dengan masyarakat, sehingga memberi dampak positif terhadap percepatan pendewasaan Praja dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, fungsi magang tersebut utamanya adalah sebagai wahana memperkaya atau melengkapi khasanah pengetahuan dan pengalaman pemerintahan bagi Wasana Praja melalui kegiatan empirik di Desa/kelurahan.

1.2. Konsep Magang

Pada dasarnya, magang merupakan proses belajar dengan cara mengikuti apa yang dikerjakan oleh orang lain yang dipandang telah cukup memiliki kemampuan dan pengalaman kerja dibidangnya. Oleh karena itu dapat di rumuskan 3 ( tiga ) kunci dalam filosofi magang, yaitu :
a) Apa yang dilihat ; merupakan proses magang pada tahap awal yaitu memahami dan mendalami penyelenggaraan pemerintahan desa, baik kelembagaan, tugas, fungsi, mekanisme, potensi kondisi dan sebagainya.



Sebuah menara setinggi 40 meter tampak menjulang di sisi Jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Menara itu seolah-olah mencoba menggapai langit. Dari puncak menara itu, suara muadzin menggema, mengundang umat muslimin di daerah kawasan pusat pendidikan Jatinangor ini, untuk mengerjakan salah satu perintah-Nya.
Menara masjid itu terletak di bagian timur dari gerbang utama kompleks ini. Perasaan damai dan nyaman segera merasuki di hati setiap insan yang menginjakkan kaki di aula dalam masjid ini. Tampak lampu kristal yang dengan anggunnya tergantung tepat di tengah aula. Sekilas tampak, beberapa pemuda berseragam coklat tengah bercengkerama di salah satu teras masjid yang berlapiskan marmer coklat itu.



Tak lama kemudian, semakin banyak pemuda-pemudi berseragam yang sama, memenuhi ruangan berukuran 25 x 25 meter ini. Masjid yang terdiri dari dua lantai ini merupakan masjid unik. Kehadirannya, bisa jadi merupakan masjid terbesar yang pernah ada di Jatinangor. Secara visual warna putih yang mendominasi masjid ini bisa jadi mencerminkan kesucian dan kebersihan hati dari para muslim dan muslimah yang beribadah di tempat itu.
Lantai pertama masjid, merupakan aula yang berfungsi sebagai ruang utama muslimin dan muslimah serta tempat shalat, diskusi dan dzikir. Sedangkan lantai kedua, meskipun jauh lebih kecil dari pada lantai pertama, lantai ini lebih sering digunakan sebagai tempat akhwat (wanita) shalat. Dari lantai kedua ini, kita bisa melihat dengan jelas tempat berdirinya khatib hingga posisi saf (barisan) paling depan dalam shalat berjamaah di lantai satu.
Dari empat sisi yang ada pada masjid ini, kita juga bisa melihat pemandangan yang berbeda-beda. Dari arah barat daya, kita akan melihat jalan raya yang menghubungkan Bandung-Sumedang dengan sudut yang berbeda, karena posisi masjid ini terletak sekitar 15 meter di atas jalan raya. Sehingga, sudut pandang itu cukup mengasyikan bagi kita untuk melihat kepadatan arus lalulintas. Sedangkan dari arah tenggara, kita akan disambut oleh rindangnya pepohonan dan halaman.


Masjid ini, memiliki kapasitas yang konon mencapai 2.000 orang, ditambah dengan kapasitas ruang utama yang 3.000 orang. Maka, kapasitas yang ada itu, bisa jadi melebihi kapasitas dari jumlah 'penghuni' instansi pemilik masjid itu sendiri. Sebenarnya, dimana instansi dan apa keistimewaan masjid yang satu ini? Masjid Da'rul Maarif, itulah nama masjid yang dimaksud.

Share |

About This Blog

Blog ini berisi tentang berbagai macam hal yang menarik menurut sudut pandang penulis. Sesuai latar belakang pendidikan dan profesinya, maka blog ini kebanyakan berisi tentang pemerintahan, STPDN/ IPDN, dan Kecamatan Mungka, sebuah kecamatan di Sumatera Barat. Terkadang penulis juga memasukkan hal-hal tentang "Pecinta Alam", teknologi komputer dan internet, dan games PC, sejalan dengan hobby dan aktifitas sehari-hari...........

Bisnis Tiket

Status YM

Pengunjung ke

free counters