MENHIR PENINGGALAN MASA PURBAKALA
Pada hari Sabtu 17 oktober 2009, saya menghadiri salah satu acara yang sudah menjadi tradisi di daerah kami yaitu "mamelok an kuburan" atau memperbaiki kuburan. Tradisi ini adalah acara memperbaiki kuburan beberapa hari setelah ada orang meninggal. Yang meninggal adalah kakek saya dari pihak Papa, Mamak dari Papa. Beliau meninggal pada hari Senin malam sekitar pukul 20.00 WIB pada saat dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi. Beliau meninggal secara mendadak, sorenya beliau mengeluh sesak nafas, dibawa ke rumah sakit terdekat, lalu dirujuk ke Bukittinggi. Namun saat di perjalanan beliau sudah menghembuskan nafas terakhir nya.
Tulisan kali ini bukanlah berfokus pada meninggalnya kakek saya, namun ada hal yang menarik menurut saya yang saya jumpai di areal pemakaman. Di areal itu ada peninggalan zaman purbakala yang disebut “menhir”.
Pemakaman Kakek Saya tersebut terletak di Jorong Ampang Gadang, Nagari Tujuah Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumbar. Di daerah saya ini banyak ditemukan menhir, tapi letaknya tersebar, tidak di satu tempat. Jadi tidak terlalu terkenal.
Daerah lain di Kecamatan Guguak yang banyak menhir adalah Belubus. Disini bahkan sudah dibangun Taman Purbakala dan Museum Arkeologi dalam bentuk Rumah Adat Minangkabau, Rumah Gadang. Berkunjung ke objek wisata budaya yang berjarak + 8 Km dari Payakumbuh
a. Mountain sickness Penyebab: Turunnya kadar oksigen udara pegunungan menyebabkan kadar oksigen dalam darah turun dan berpengaruh ke otak. Tanda-tanda: Mual, muntah, haus, nafas tersengal-sengal, lemah, nafsu makan turun, pucat pada bibir dan kuku, pusing, sakit kepala. Pertolongan: Alirkan lebih banyak oksigen ke pernafasan, dengan tabung oksigen, turun ke tempat yang lebih rendah, berjalan pelan, ambil saat istirahat setiap langkah (menghemat konsumsi oksigen).
b. Frosbite (membekunya anggota tubuh) Penyebab: Hawa dingin (salju). Sering terjadi di ujung jari tangan dan kaki, karena letaknya yang jauh dari jantung sehingga aliran darah kurang. Frosbite permukaan: Yang terkena hanya kulit dan bagian lapisan dibawahnya, kulit terasa keras berwarna abu-abu putih, terasa sakit dan lama kelamaan hilang rasa sakit. Frosbite dalam: Selain kulit, otot-otot sampai tulang juga terkena, bagian yang terkena keras dan kaku, matirasa. Pertolongan: Letakkan bagian yang sakit pada anggota tubuh yang hangat ( ketiak, selangkangan), jangan menggosok-gosok akan mengakibatkan kematian jaringan, cairkan dengan direndam air hangat, jangan kontak langsung dengan api, lampu karena akan menyebabkan kerusakan lebih parah, berikan makanan dan minuman hangat (non-alkohol), usahakan menggerak-gerakkan bagian yang terkena, lakukan secara steril.
c. Eksposure ( kelelahan mental dan fisik karena keadaan alam/ lingkungan) Hipothermia: Terjadi pada lingkungan yang basah, berangin di tempat yang dingin, ditandai suhu tubuh menurun, kelelahan, sulit bicara, pikiran tak terkendali, pertolongan: perbaiki keadaan,
MANAJEMEN PERALATAN
Sebelum melaksanakan pemanjatan artifisial langkah awal kita adalah mencatat dan mengecek alat yang akan di bawa sebelum berada di tebing, untuk pengecekan dan pengidentifikasian alat masuk pada manajemen alat.
1. Tali kernmantel.
Langkah awal kita mengurai tali, selagi mengurai tali, tali tersebut dicek dengan cara ditekan dan dilipat pada setiap kali mengurai tali. apa bila pada saat kita menekan tali tersebut ternyata pada bagian tertentu dari tali itu bentuk tali yang kita tekan berbentuk pipih dan waktu tali tersebut dilipat didalam mantel tersebut terasa tidak berisi atau mudah kita melipatnya menjadi dua bagian yang dapat menyatu maka seharusnya tidak dipakai.
2. Sling.
Pengecekan dimulai dengan melihat keadaan sling tersebut apakah ada cacat atau tidak bila ada cacat cukup parah maka kita tidak boleh menggunakannya apabila cacatnya tidak terlalu parah maka kembali pada keyakinan kita, apakah layak atau tidak di gunakan, selanjutnya pengecekan dilanjutkan dengan mengukur jarak sisa simpul pita pada sling kurang lebih dua jari.
3. Carabiner non screw.
Terlebih dahulu dicek pennya apakah daya pegas dari pen tersebut lemah atau tidak, bila pen-nya lemah dapat mengakibatkan benda yang di pasang ke carabiner keluar,
Terlalu lama kedinginan, khususnya dalam cuaca berangin dan hujan, dapat menyebabkan mekanisme pemanasan tubuh terganggu sehingga menyebabkan penyakit kronis. Hipotermia adalah suatu keadaan dimana tubuh merasa sangat kedinginan. Setelah panas dipermukaan tubuh hilang maka akan terjadi pendinginan pada jaringan dalam dan organ tubuh. Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku, pembuluh darah dapat mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Dalam kondisi yang parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh) dan perlu diamputasi.
Biasanya suhu tubuh Kita normal dan tetap pada suhu +/-37,5 derajat Celsius. Kalau panas, tubuh kita akan mengeluarkan keringat untuk mengurangi panas tersebut, dan kalau dingin kita menggigil untuk memanaskan tubuh. Hypothermia adalah penurunan suhu tubuh (kedingingan) dari suhu normal, dan apabila kalau tidak cepat mengatasi situasi tersebut di gunung bisa berakibat fatal. Percayalah...! setiap tahun di Indonesia, anak pendaki meninggal karena hypothermia,.... jangan sampai Kamu atau teman lain menjadi korban dan kemudian tewas. Sebagai pendaki, Anda harus paham tentang hypothermia.
Udara dingin yang basah disertai angin yang bertiup kencang, seringkali dijumpai para pendaki ketika melakukan pendakian gunung. Tidak jarang badai dan hujan lebat menyertai hawa dingin. Malam yang cerah seringkali membuat udara semakin dingin dan berembun. Di puncak musim kemarau justru di sekitar puncak gunung seringkali muncul kristal-kristal es yang menempel pada daun-daunan dan bunga edelweis.
TIPS MENCUCI TALI KERNMANTLE
1. Cucilah tali dengan menggunakan air dingin.
2. Hindari penggunaan detergen dalam mencucinya, shampo direkomendasikan, asal jangan terus-menerus.
3. Jangan menjemur tali di terik matahari, cukup diangin-anginkan saja.
4. Setelah kering, Gosok-gosokan lilin keseluruh tali.
5. Untuk sementara, penggunaan tali setelah tips mengosokan lilin, tali akan sedikit licin, Setelah itu nantinya akan berfungsi normal kembali dan awet.
(disadur dari Bulettin 5.11 Pengda FPTI DIY)
TIPS MERAWAT SLEPPING BAG
1. Jika tidak sedang digunakan, sebaiknya Sleeping Bag dikeluarkan dari kantungnya untuk menjaga bulu-bulu yang ada didalamnya, atau gantung pada gantungan baju anda. Kantung untuk Sleeping Bag sebaiknyajangan terlalu kecil, supaya tidak terlalu menekan Sleeping Bag anda, juga jangan memakai kantung plastik yang akan menyebabkan Sleeping Bag anda menjadi lembab.
2. Jika anda mempunyai Sleeping Bag yang tidak waterproof (kedap air), anda memerlukan tambahan kantung tidur plastik yang banyak dijual ditoko-toko perlengkapan petualangan.
3. Ketika akan menggunakan Sleeping Bag, keluarkan dari kantungnya, hamparkan dan tepuk-tepuk halus sampai bulu-bulu yang ada didalamnya menyebar ke semua bagian Sleeping Bag anda.
4. Pagi harinya setelah Sleeping Bag digunakan, sebaiknya dijemur diluar atau di atas tenda. Sleeping Bag yang menggunakan retsleting penuh,
Survival berasal dari kata survive yang berarti perjuangan untuk tetap hidup, sedangkan survival itu sendiri adalah : keadaan yang tidak menentu yang dialami seseorang atau kelompok orang pada suatu tempat di daerah terasing dan terisolir, dimana dalam menghadapi kondisi tersebut dituntut untuk harus tetap hidup atau survive, sedangkan orang atau sekelompok orang yang berada dalam kondisi tersebut disebut survivor.
MACAM-MACAM SURVIVAL
a. Berdasarkan medannya terbagi menjadi :
1.Survival hutan gunung ( Jungle Survival )
2.Survival laut ( Sea Survival )
3.Survival padang pasir ( Desert Survival )
4.Survival kutub ( Artic Survival )
Dalam kesempatan ini pembahasan kita hanya terbatas pada survival hutan gunung karena kegiatan kita banyak terfokus pada hutan gunung.
b. Berdasarkan kualitas
1. Survival individu Seseorang yang berada dalam kondisi survival dikarenakan memang melakukan kegiatan alam bebas seorang diri ataupun terpisah dari kelompoknya. Problematika yang dihadapi antara lain : • sepi • bosan • takut • panik • tidak ada teman untuk berkomunikasi • tidak ada nafsu makan • lelah dan capek
2. Survival kelompok Sekelompok orang yang berada dalam kondisi survival yang diakibatkan oleh semua anggota kelompok atau diakibatkan oleh seorang atau sebagian anggota kelompok sehingga akibatnya harus ditanggunug oleh semua. Problematika yang dihadapi antara lain : • teman sendiri • tidak menerima situasi dan kondisi yang ada
c. Berdasarkan tempatnya
1. Survival statis. Dalam survival statis ini survivor menunggu pertolongan atau bantuan dari orang lain untuk keluar dari kondisi yang tidak menentu ini. Hal ini ditandai dengan pendirian tempat perlindungan yang menetap.
2. Survival dinamis. Dalam kondisi dinamis pihak survivor sendiri yang berusaha keluar dari kondisi yang tidak menentu.
FAKTOR-FAKTORPENYEBABSURVIVAL
Beberapa faktor yang umumnya datang dengan sendirinya dan berkaitan dengan kondisi dan situasi yang dihadapi survivor adalah :
A. Psikologis yang disebabkan karena perasaan terasing,kesepian, takut, bosan, tertekan, panik dan putus asa.
B. Fisiologis disebabkan karena kelelahan, lapar, haus, sakit, luka, dan kurang tidur.
